Oleh: albertgodlike | November 12, 2008

Tarsi.. Cup 2008….

Tanggal 7 November 2008 Tarsi-Cup sudah dibuka…… Penutupannya pun tanggal 15 November 2008. Gw sempet kecewa dgn diadainnya Tarsi-Cup krn setiap siswa musti membantu dana untuk membantu diadakannya Tarsi-Cup ini… kan seharusnya pihak OSIS yang harus berusaha untuk meminta dana tetapi bukan ke siswanya yang dimintai… dan semua siswa/i harus membeli tiket sebesar Rp 10.000,00 untuk menonton pertandingan sepuasnya hingga larut malam juga gpp….

Tiket itu harus semua siswa membelinya walaupun kita tidak mau menontonnya… sempet kecewa aj…. dan Tarsi-Cup tahun ini kurang meriah dan kurang menarik dari tahun yang lalu karena dilihat dari segi sekolah yang mendaftar banyak sekolah yang tidak mengikuti Tarsi-Cup tahun 2008 ini… Bukannya menyalahkan pihak OSIS tetapi mungkin dalam memberikan informasi tentanga Tarsi-Cup kurang… sehingga pihak sekolah menganggap remeh tentang Tarsi-Cup tahun 2008 ini… Dan 1 hal lagi nih.. tahun ini yang paling payah menurut gw selama 3 tahun gw bersekolah di Tarsisius-II tentang lapangan tempat diadakannya pertandingan. Menurut gw orang” aj udah males kali yah melihat lapangan tarsi yang tidak dicat…. jadi menurunkan rasa percaya untuk bertanding diTarsi-Cup….

Mungkin itu duank kali yang maw gw sampaikan…..

Oleh: albertgodlike | April 1, 2008

Dota All Star

Ini game yang sedang terlaris diindonesia. Game ini sering diturnamenkan dibanyak tempat. Menurut gw yang membuat game ini tertarik diminati oleh orang adalah game ini hanya sekali main langsung habis. Tetapi dalam game ini kita dapat memilih hero yang kita sukai. Didalam Dota all star dibagi menjadi 2 team yaitu Sentinel dan Scourge. Didalam dota kita dapat mencari duit dengan membunuh krep (anak buah) dan duit yang kita dapat, dapat kita membeli barang yang telah disediakan di markas masing-masing.

Dalam game ini juga banyak tersedia hero-hero atau jagoan yang hendak kita pake. Dalam hero-hero itu mempunyai skill yang membuatnya menjadi terkenal.

Ini lah nama-nama hero yang ada di Dota all star :

1. Sentinel

Zaman sekarang siapa sih yang tidak mempunyai atau mengenal situs blok dikomputer. Situs blok ini banyak loh manfaatnya apalagi sebagai anak remaja yang ingin memperluas dunia pergaulan dan pengetahuan tentang dunia luar. Di sini sama halnya seperti frendster, kita dapat mencari serta menambah teman sebanyak mungkin. Namun, bedanya di sini kita dapat menampilkan karya – karya atau tulisan – tulisan tentang apapun atau pun hanya sekedar mengkopi artikel dari google ataupun yang lainnya sehingga orang lain dapat membacanya. Selain itu, kita juga dapat berbagi pengalamn, informasi, dan bisa mendapatkan saran dan kritik terhadap tulisan yang kita buat dari komentar pedas, bagus, maupun komentar yang ga guna banget tapi perlu diperlukan juga untuk perkembangan dlam pembuatan tulisan.

Bagi media pembelajaran, blok bermanfaat untuk mencari ilmu bukan hanya sekedar pengetahuan yang didapat dari sekolah tapi disini kita dapat menanyakan hal- hal yang kita tidak ketahui tentang web blok kepada pemilik situs blok yang lain atau apabila dengan mengunjungi situs blok orang lain kita dapat sesuatu yang baru dari bacaan atau tulisan yang ditulis atau ditampilkan di situs blok misalnya web tentang kesehatan, otomotif, dengan mengunjungi web blok ini kita dapat belajar tentang pengetahuan kesehatan, atau apasih otomotif itu? Serta hal – hal yang berkaitan dengan otomotif.

Web blok ini penting bagi siswa – siswi untuk menampilkan tulisan – tulisan yang mereka buat agar bisa dibaca orang lain, dan dipublickasikan kepada semua. Dari suatu situs blok, seseorang dapat dikenal kratif atau tidak, dari background, isi artikel, pemilihan warna, jumlah pengunjung, jumlah orang yang memberikan komentar ataupun jumlah artikel yang ditulis. Biasanya situs blok yang berisi masalah yang dibutuhkan orang banyak akan mendapatkan respon lebih besar dari masyarakat sehingga jumlah pengunjungnya besar, dan sebaliknya.

Situs blok juga dikenal sebagai sarana komunikasi, seseorang dapat berkomunikasi dengan teman, atau orang lain dalam hal membahas isi artikel, atau menanyakan dan menjawab pertanyaan, dan lain – lain seperti meberikan komentar dari suatu artikel itu dan mendapatkan respon dari pemilik web merupakan suatu komunikasi antara kita dengan orang itu

Oleh: albertgodlike | Maret 25, 2008

Blog buat pendidikan

Blog juga berguna untuk pendidikan. Seperti misalnya siswa dituntut untuk membuat suatu artikel dan orang lain akan menilai atau dengan kata lain orang lain akan memberi saran tentang artikel yang kita buat. Dan dalam blog tersebut, siswa dapat mengisi sponsor atau iklan didalam blog tersebut. Blog sangat berguna bagi siswa, didalam blog ini siswa harus kreatif agar blog kita dapat menarik perhatian dari orang lain untuk melihat blog kita.

Oleh karena itu baiknya kita harus sekreatif mungkin untuk membuat blog agar dapat dilihat orang banyak.

Oleh: albertgodlike | Februari 12, 2008

Apa fungsi dari vitamin A?

Vitamin A
Fungsi : Berperan penting dalam kesehatan mata, merpertahankan kesehatan kulit dan rambut.
Sumber : Wortel, bayam, kentang, telur, mentega.
Takaran yang dianjurkan : 5000 IU/hari

Selain itu vitamin C berguna untuk mencegah sariawan.Vitamin C itu didapat dari buah dan juga didapat dari minuman suplement. Seperti buah jeruk dan suplement seperti CDR.

Menurut gw faktor guru sangat mempengaruhi dalam belajar. Karena kalau guru tersebut asik/cara mengajarnya maka anak murid tersebut secara otomatis akan mendengarkan pelajaran yg sedang di ajarkan. Seharusnya guru bukan hanya memikirkan bahwa “yang penting saya sudah mengajar” itu sama saja “GAJI BUTA”. Guru harus juga memikirkan anak muridnya apakah anak murid yg diajarkannya mengerti atau tidak.

Kalau anak murid tersebut tidak mengerti, secara otomatis akan menurunkan kualitas/mutu belajar dari sekolah tersebut. Seharusnya kepala sekolah harus membicarakan atau menghimbau kepada seluruh guru untuk tidak mengajar secara asal-asalan.

Oleh: albertgodlike | Februari 12, 2008

Mengapa konsentrasi sangat dibutuhkan oleh siswa??

So pasti semua orang membutuhkan konsentrasi dalam melakukan sesuatu. Bukan hanya murid saja yg membutuhkan konsentrasi tetapi semua orang. Tetapi dalam artikel ini gw membahas murid, karena gw masih anak murid. Konsentrasi sangat dibutuhkan oleh siswa agar semua pelajaran yg kita dapat disekolah dapat kita gunakan untuk masa depan kita semua.

Oleh: albertgodlike | Februari 12, 2008

Ibu sangat berarti bagi-Ku

Ibu yang Mengetahui

Julie B. Beck
Presiden Umum Lembaga Pertolongan

Ada pengaruh dan kuasa kekal dalam peran sebagai ibu.

Sister Julie B. BeckDalam Kitab Mormon kita membaca mengenai 2.000 pemuda yang penuh teladan yang sangat gagah, berani, dan kuat. “Mereka adalah orang-orang yang suka akan kebenaran serta bersungguh-sungguh, karena mereka telah diajari supaya mematuhi perintah-perintah Allah dan hidup tak bercela di hadapan-Nya” (Alma 53: 21). Para pemuda yang setia ini menghormati ibu mereka. Mereka mengatakan, “Ibu kita mengetahuinya” (Alma 56:48). Saya rasa bahwa ibu Kapten Moroni, Mosia, Mormon, dan pemimpin besar lainnya juga mengetahui.

Tanggung jawab yang para ibu miliki dewasa ini memerlukan lebih banyak kewaspadaan. Lebih dari zaman apa pun dalam sejarah dunia, kita memerlukan ibu yang mengetahui. Anak-anak dilahirkan ke dunia dimana mereka “tidak berjuang melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12).1 Meskipun demikian, para ibu tidak perlu takut. Ketika para ibu mengetahui siapa diri mereka dan siapa Allah, dan telah membuat perjanjian-perjanjian dengan-Nya, mereka akan memiliki kuasa dan pengaruh yang besar bagi kebaikan anak-anak mereka.

Ibu yang Mengetahui Melahirkan Anak-Anak

Ibu yang mengetahui ingin melahirkan anak-anak. Meskipun dalam banyak kebudayaan di dunia anak-anak “menjadi kurang dihargai,”2 dalam kebudayaan Injil kita masih percaya dalam memiliki anak-anak. Para nabi, pelihat, dan pewahyu yang didukung dalam konferensi ini telah menyatakan bahwa “Perintah Allah bagi anak-anak-Nya untuk beranak cucu dan memenuhi bumi tetap berlaku.”3 Presiden Ezra Taft Benson mengajarkan bahwa pasangan muda hendaknya tidak menunda dalam memiliki anak-anak dan bahwa “dalam perspektif kekal, anak-anak—bukan harta milik, bukan kedudukan, bukan prestise—adalah permata kita yang paling berharga.”4

Para putri Allah yang setia menginginkan anak-anak. Dalam tulisan suci kita membaca tentang Hawa (lihat Musa 4:26), Sara (lihat Kejadian 17:16), Ribka (lihat Kejadian 24:60), serta Maria (lihat 1 Nefi 11:13–20) yang ditetapkan sebelumnya untuk menjadi ibu sebelum anak-anak mereka lahir dari rahim mereka. Sejumlah wanita tidak diberi kesempatan untuk melahirkan anak-anak dalam kefanaan, namun seperti halnya Hana dari Perjanjian Lama berdoa dengan sungguh-sungguh memohon anaknya (lihat 1 Samuel 1:11), nilai wanita terletak pada peran sebagai ibu dalam kehidupan ini dan sifat-sifat sebagai ibu yang mereka capai di sini akan mereka bawa dalam Kebangkitan (lihat A&P 130:18). Para wanita yang menginginkan serta mengupayakan berkat-berkat itu dalam kehidupan ini dijanjikan bahwa mereka akan menerimanya di sepanjang segala kekekalan, yang jauh lebih panjang dari kefanaan. Ada pengaruh dan kuasa kekal dalam peran sebagai ibu.

Ibu yang Mengetahui Menghormati Tata Cara dan Perjanjian Kudus

Ibu yang mengetahui menghormati tata cara-tata cara serta perjanjian-perjanjian kudus. Saya telah menghadiri pertemuan sakramen di beberapa tempat termiskin di bumi ini dimana para ibu telah berpakaian dengan kecermatan besar dalam pakaian hari Minggu mereka meskipun telah berjalan bermil-mil jauhnya di jalanan berdebu dan menggunakan transportasi umum yang bobrok. Mereka membawa anak-anak perempuan dalam pakaian yang bersih dan disetrika dengan rambut disisir rapi; anak-anak lelaki mereka mengenakan kemeja putih dan dasi dan potongan rambutnya seperti misionaris. Para ibu ini mengetahui bahwa mereka akan pergi ke pertemuan sakramen dimana perjanjian-perjanjian diperbarui. Para ibu ini telah membuat dan menghormati perjanjian-perjanjian bait suci. Mereka mengetahui bahwa seandainya mereka tidak menunjukkan kepada anak-anak mereka bait suci, mereka tidak menunjukkan kepada mereka arah gol-gol kekal yang diinginkan. Para ibu ini memiliki pengaruh dan kuasa.

Ibu yang Mengetahui Adalah Pemelihara

Ibu yang mengetahui adalah pemelihara. Inilah tugas dan peran khusus mereka menurut rencana kebahagiaan.5 Memelihara artinya memupuk, merawat, dan menjadikan tumbuh. Oleh karena itu, ibu yang mengetahui menciptakan suasana untuk pertumbuhan rohani dan jasmani di rumah mereka. Kata lain untuk memelihara adalah kerumahtanggaan. Kerumahtanggaan mencakup memasak, mencuci pakaian dan perabotan dapur, serta menjaga rumah tetap rapi. Rumah adalah tempat para wanita memiliki paling banyak kuasa dan pengaruh; oleh karena itu, wanita Orang Suci Zaman Akhir hendaknya menjadi ibu rumah tangga yang terbaik di dunia. Bekerja berdampingan dengan anak-anak dalam tugas-tugas kerumahtanggaan menciptakan kesempatan untuk mengajar dan meneladankan sifat-sifat yang hendaknya anak-anak tiru. Ibu yang memelihara memiliki pengetahuan, namun semua pendidikan yang para wanita capai tidak akan berguna bagi mereka jika mereka tidak memiliki keterampilan untuk membuat sebuah rumah tangga yang menciptakan suasana untuk pertumbuhan rohani. Pertumbuhan terjadi paling baik dalam “rumah yang teratur,” dan wanita hendaknya mempolakan rumah mereka menurut rumah Tuhan (lihat A&P 109). Memelihara memerlukan organisasi, kesabaran, kasih, dan kerja. Menolong pertumbuhan yang terjadi melalui memelihara adalah sungguh-sungguh sebuah peran yang sangat kuat dan berpengaruh yang dianugerahkan kepada wanita.

Ibu yang Mengetahui Adalah Pemimpin

Ibu yang mengetahui adalah pemimpin. Dalam hubungan yang setara dengan suami mereka, mereka memimpin sebuah organisasi yang besar dan kekal. Para ibu ini merencanakan masa depan bagi organisasi mereka. Mereka merencanakan misi, pernikahan bait suci, serta pendidikan. Mereka merencanakan doa, pembelajaran tulisan suci, dan malam keluarga. Para ibu yang mengetahui membangun anak-anak mereka menjadi pemimpin masa depan dan teladan utama sebagaimana pemimpin yang seharusnya. Mereka tidak meninggalkan rencana mereka dengan menyerah pada tekanan sosial dan cara-cara peranan sebagai orang tua duniawi. Ibu yang bijaksana ini yang mengetahui, selektif dengan kegiatan-kegiatan dan keterlibatan mereka untuk menghemat kekuatan mereka yang terbatas untuk memaksimalkan pengaruh mereka yang paling berarti.

Ibu yang Mengetahui Adalah Guru

Ibu yang mengetahui senantiasa adalah guru. Karena mereka bukan pengasuh anak, mereka tidak pernah libur. Seorang teman yang terdidik mengatakan kepada saya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dia pelajari di Gereja yang belum dia pelajari di rumah. Orang tuanya menggunakan pembelajaran tulisan suci, doa, malam keluarga, makan malam bersama, dan pengumpulan lainnya untuk mengajar. Pikirkanlah tentang kuasa dari kekuatan misionaris masa depan kita seandainya para ibu mempertimbangkan rumah mereka sebagai pra-Pusat Pelatihan Misionaris. Maka ajaran-ajaran Injil yang diajarkan di PPM akan menjadi sebuah ulasan dan bukan wahyu. Itulah pengaruh; itulah kuasa.

Ibu yang Mengetahui Tidak Membiarkan Hal yang Tidak Baik

Ibu yang mengetahui tidak membiarkan hal yang tidak baik. Mereka tidak membiarkan hal-hal yang tidak menghasilkan kebaikan secara kekal. Mereka tidak membiarkan media yang tidak baik di rumah mereka, gangguan yang tidak baik, kegiatan yang tidak baik menyesatkan anak-anak mereka dari rumah mereka. Ibu yang mengetahui bersedia untuk hidup tanpa atau menggunakan seminim mungkin barang-barang duniawi untuk meluangkan lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka—lebih banyak waktu makan bersama, lebih banyak waktu bekerja bersama, lebih banyak waktu membaca bersama, lebih banyak waktu bercakap-cakap, bercanda ria, menyanyi, dan memberi teladan. Para ibu ini memilih dengan hati-hati dan tidak berusaha memilih seketika. Gol mereka adalah untuk mempersiapkan angkatan muda anak-anak yang mau menyebarkan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Gol mereka adalah untuk mempersiapkan para ayah dan ibu masa depan yang mau menjadi pembangun kerajaan Tuhan untuk 50 tahun ke depan. Itulah pengaruh; itulah kuasa.

Ibu yang Mengetahui Berdiri Kukuh dan Tak Tergoyahkan

Siapa yang akan mempersiapkan generasi putra dan putri yang saleh ini? Para wanita Orang Suci Zaman Akhir akan melakukan ini—wanita yang mengetahui dan mengasihi Tuhan serta memberikan kesaksian tentang Dia, wanita yang kukuh dan tak tergoyahkan dan tidak menyerah selama masa-masa sulit serta menyedihkan. Kita dipimpin oleh seorang Nabi Allah yang diilhami yang telah menyerukan kepada para wanita Gereja untuk “berdiri kukuh dan tak tergoyahkan untuk mempertahankan apa yang benar dan tepat menurut rencana Tuhan.”6 Dia telah meminta kita untuk “mulai dari rumah-rumah [kita] sendiri”7 untuk mengajar anak-anak cara-cara kebenaran. Para wanita Orang Suci Zaman Akhir hendaknya menjadi yang paling baik di dunia dalam membela, memelihara, dan melindungi keluarga. Saya memiliki keyakinan bahwa para wanita kita akan melakukan ini dan akan dikenal sebagai ibu yang “mengetahui” (Alma 56:48). Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Oleh: albertgodlike | Februari 12, 2008

PERILAKU BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

PERILAKU BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Perguruan Tinggi Sebagai Pilihan Strategik

Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut. Kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi dapat menyebabkan proses belajar bersifat disfungsional.

Belajar merupakan hak setiap orang. Akan tetapi, kegiatan belajar di suatu perguruan tinggi merupakan suatu privilege karena hanya orang yang memenuhi syarat saja yang berhak belajar di lembaga pendidikan tersebut. Privilege yang melekat pada mereka yang belajar di suatu perguruan tinggi tidak hanya terletak pada sarana fisik dan sumberdaya manusia yang disediakan tetapi juga pada pengakuan secara formal bahwa seseorang telah menjalani kegiatan belajar dan pelatihan tertentu. Dengan pengakuan tersebut, harapannya adalah bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar secara formal akan mempunyai wawasan, pengetahuan, keterampilan, kepribadian dan perilaku tertentu sesuai dengan apa yang ingin dituju oleh lembaga pendidikan. Tujuan lembaga pendidikan pada umumnya dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional. Yang perlu dicatat adalah bahwa belajar merupakan kegiatan individual, kegiatan yang sengaja dipilih secara sadar karena seseorang mempunyai tujuan individual tertentu. Belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan di antara berbagai alternatif strategik untuk mencapai tujuan individual. Kesadaran mengenai hal ini akan sangat menentukan sikap dan pandangan belajar di perguruan tinggi yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang belajar di perguruan tinggi.

Karena seseorang mendapat privilege belajar di perguruan tinggi, seseorang dituntut untuk berbuat atau bertindak lebih dari mereka yang tidak mendapatkan privilege tersebut. Mereka yang belajar di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempunyai keterampilan teknis tetapi juga mempunyai daya dan kerangka pikir serta sikap mental dan kepribadian tertentu sehingga mereka mempunyai wawasan yang luas dalam menghadapi masalah-masalah dalam dunia nyata (masyarakat). Kalau mereka yang mempunyai privilege akhirnya berbuat atau bertindak (termasuk cara belajarnya) seperti mereka yang tidak belajar melalui lembaga formal maka mereka yang berstatus mahasiswa sebenarnya tidak berbeda dengan mereka yang belajar tidak melalui lembaga pendidikan formal kecuali bahwa mereka yang belajar di perguruan tinggi mempunyai kartu mahasiswa dan dengan demikian dianggap statusnya lebih tinggi.

Bila belajar di perguruan tinggi tidak dapat mengubah wawasan dan perilaku akademik atau sosial, pada saat mahasiswa lulus dari perguruan tinggi barangkali mereka hanya bertambah keterampilan dan atributnya (misalnya gelar) tetapi mereka sebenarnya tidak berbeda dengan mereka yang memperoleh ketrampilan yang sama tanpa melalui pendidikan formal. Bila keadaan ini terjadi, perguruan tinggi akan menjadi sekadar tempat antre untuk memperoleh tiket masuk ke arena belajar yang sesungguhnya yaitu praktik di dunia nyata. Akibatnya, kontribusi pendidikan tinggi dalam mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik dan maju akan menjadi kecil walaupun mungkin tujuan individual mahasiswa yang sempit dan jangka pendek tercapai.

Aspek Belajar

Apapun tujuan yang ingin dicapai melalui belajar di perguruan tinggi, akhirnya tujuan tersebut harus dicapai dalam bentuk unit kegiatan belajar-mengajar yang disebut kuliah. Kuliah merupakan bentuk interaksi antara dosen, mahasiswa dan pengetahuan/ketrampilan. Pemahaman dan persepsi mengenai hubungan ketiga faktor tersebut sangat menentukan keberhasilan proses belajar. Kuliah merupakan kegiatan yang membedakan pendidikan formal dan nonformal. Namun hal yang perlu dicatat adalah bahwa kuliah bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bukan satu-satunya kegiatan belajar.

Beberapa aspek yang berkaitan dengan kegiatan konkret belajar sebagaimana dirinci pada halaman judul dibahas berikut ini. Pemahaman terhadap aspek ini akan mempengaruhi sikap dan semangat mahasiswa dalam menjalani proses belajar.

Makna Kuliah

Arti kuliah pada umumnya diperoleh mahasiswa bukan karena kesadarannya tentang arti kuliah yang sebenarnya tetapi karena pengalaman mahasiswa dalam mengikuti kuliah. Kesan yang keliru akan mengakibatkan adanya kesenjangan persepsi tujuan antara lembaga pendidikan, dosen dan mahasiswa sehingga proses belajar-mengajar yang efektif menjadi terhambat. Gambar 1a di halaman berikut melukiskan persepsi kuliah yang kebanyakan berlaku menurut pengamatan penulis. Kuliah dan dosen dianggap merupakan sumber pengetahuan utama (dan bahkan satu-satunya) sehingga catatan kuliah merupakan jimat yang ampuh dan dosen merupakan dewa pengetahuan (tapi hanya karena menyembunyikan pengetahuan tersebut). Lingkungan belajar seperti itu menempatkan dosen menjadi seperti tukang sulap yang kelihatan pintar tetapi hanya karena mengetahui muslihat-muslihat (tricks) yang sengaja disembunyikannya dan kemudian menjual pengetahuan tersebut melalui loket kuliah. Mahasiswa memperoleh pengetahuan sedikit demi sedikit dari tangan dosen seperti membeli kue dari sebuah warung.

Oleh: albertgodlike | Februari 12, 2008

Pengaruh game bwt anak

‘Game Watch”, Benarkah Berbahaya bagi Anak?

Di mana ada kios penjualan atau penyewaan video games atau computer games, di sana pasti berkumpul anak-anak. Hasil teknologi ini memang telah membuat keranjingan anak-anak kota. Melihat begitu besarnya sambutan terhadap alat permainan yang satu ini, maka pihak bisnis yang barangkali tak pernah memikirkan akibat negatif yang bakal ditimbulkannya, menciptakan permainan sejenis yang jauh lebih praktis yang lekat dengan istilah game watch. Lalu, benarkah game watch berbahaya bagi anak?

—————–

PADA mulanya, video games atau sejenisnya diciptakan hanya sekadar untuk mengisi waktu luang misalnya sedang menggu, dan sebagainya. Jenis ini dikenal dengan istilah dingdong. Karena itu, penempatannya pun hanya di pusat-pusat perbelanjaan atau di gedung-gedung bioskop dan pusat keramaian. Namun kenyataannya, kehadiran dingdong ini banyak disalahgunakan, misalnya saja didirikan di dekat sekolah dan di tempat-tempat yang kurang layak. Barangkali ini salah satu pencetus anak membolos dari sekolahnya.

Menurut Seto Mulyadi alias Kak Seto, permainan ini dimaksudkan untuk merangsang kecepatan bereaksi. Tapi parahnya, permainan itu mampu membuat anak kecanduan. Dengan sendirinya anak akan lupa belajar, makan, dan sebagainya. Ini tentu saja akan mengganggu fisik dan mental si anak.

Positif-Negatif

Sosiolog dari UI, Dra. Siti Hidayati, menilai video games cukup gawat pengaruhnya pada sosialisasi anak. Dalam proses sosialisasi, anak butuh teman sebaya untuk bermain. Bermain di sini diartikan sebagai proses belajar bermasyarakat. Ini pasti perlu ruang dan waktu. Konyolnya, katanya, lahan bermain makin lenyap, sementara waktu pun hilang begitu saja di depan layar video games.

“Dalam permainan ini, anak berhadapan dengan benda mati. Jadi, tak ada interaksi yang kreatif,” papar Siti seraya menambahkan, akhirnya tersimpulkan bahwa di situ tak ada interaksi kreatif dalam diri anak. “Cepat atau lambat, hal ini akan mengikis proses sosialisasi anak sebelum akhirnya mengambil peran dalam masyarakat,” katanya.

Prof. Dr. Utami Munandar, psikolog, mengingatkan bahwa dampak buruk yang bisa ditimbulkan akibat kecanduan permainan ini adalah melemahnya fisik dan psikis, tanpa disadari anak. Rentetan berikutnya, menyebabkan anak kekurangan energi dan melemahnya konsentrasi. Maka, jangan heran jika sewaktu-waktu nilai di rapor anak menurun, dan tidak usah kaget bila tiba-tiba seorang anak berubah jadi pemarah dan mudah tersinggung. “Memang pengaruhnya besar sekali terhadap perkembangan inteligensia anak-anak,” ujar Utami.

Sejauh permainan itu belum membuat kecanduan, Dra. Shinto B. Adelar, M.Sc, sekretaris jurusan Psikologi Perkembangan UI melihat adanya dua sisi — positif dan negatif — dalam video games. Dampak positif yang ditimbulkan permainan ini adalah belajar menemukan strategi. Dalam video games anak dirangsang menemukan atau mencapai score tertinggi, dengan sendirinya ia mempelajari setiap kesalahan yang telah diperbuat. Score itu dimaksudkan sebagai penghargaan atas jerih payah anak.

Selain itu, kata Shinto, masih ada segi positif lainnya, yakni melatih keterampilan tangan, koordinasi motorik mata dan tangan menjadi lebih terlatih. Segi lain adalah ketekunan. Namun “ketekunan” di sini dapat berarti buruk. Untuk sisi negatifnya, Shinto menilai video games bisa menumbuhkan sikap agresif. Contohnya, untuk mencari score tertentu ia harus menghancurkan lawan, dengan cara “membunuh” dan sebagainya. Hal ini, kata Shinto, bisa membingungkan anak bila tak dapat membandingkan antara permainan yang sifatnya fantasi dengan realitas kehidupan sekelilingnya.

Jalan Keluar

Langkah yang perlu segera diambil yaitu bagaimana agar jangan sampai anak itu kecanduan. Sebab, kalau sudah kecanduan akan sulit mengarahkannya agar mau mengerti tentang akibat sampingan alat mainan itu. Utami maupun Shinto sependapat, menggiring anak pada kegiatan lain memang tidak mudah, tapi bagaimana pun ini adalah tugas orangtua dan mereka harus mampu memahami minat anaknya.

Sementara Shinto menawarkan kegiatan yang bisa menggiring anak meninggalkan permainan yang cukup berpengaruh itu atau menjauhkan mereka dari dingdong atau sejenisnya, yakni dengan mengikutkan pada kegiatan ekstra kurikuler. “Karena, menutup toko yang menyewakan atau menjual game watch tidaklah mungkin, tapi batasilah uang jajan anak-anak dan motivasi mereka untuk tidak terpengaruh untuk membeli sejenis mainan itu,” ujarnya.

Alternatif lain diungkapkan Siti Hidayati, yakni lebih menitikberatkan pada dihidupkannya kembali keterampilan tradisional di SD. Dari segi sosiologi keluarga, ia menekankan agar orangtua lebih menyadari perannya sebagai social agent bagi anak-anaknya. Orangtua harus mampu jadi teman bermain bagi anak-anaknya, sehingga komunikasi menjadi lancar dan anak tidak perlu lagi mencari kesibukan di luar rumah. Apalagi kenyataannya kini, anak-anak di kota seperti kehilangan tempat bermain, setelah semuanya berubah jadi pusat-pusat pertokoan dan perkantoran.

Tapi, menurut Kak Seto, yang paling efektif yaitu dengan membiasakan kembali mendongeng bagi anak-anak. Dalam era globalisasi kini, orangtua wajib berperan sebagai penyampai pesan (komunikator) bagi anak-anaknya dengan kegiatan mendongeng. Hal itu bisa dilakukan setelah ibunya pulang dari bepergian dengan menceritakan apa yang pernah dilihatnya atau juga oleh ayahnya ketika anaknya hendak tidur malam.

Dus, bukan hanya orangtua yang pegang peranan di sini, tetapi guru pun harus ikut aktif. Guru harus dapat menempatkan dirinya di tengah anak-anak yang masih dalam proses perkembangan dengan segala tantangannya agar anak didiknya merasa kerasan tinggal di kelas. Di samping itu, ketika di sekolah, guru hendaknya jangan hanya memberi PR yang sifatnya abstrak, tetapi hendaknya yang bersifat realistis, misalnya dengan menyuruh anak menyelidiki proses persemaian pada tumbuhan dan sebagainya.


Kategori